Jakarta – Kepala Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian Fadjry Djufry mengatakan adaptasi pertanian untuk mengurangi dampak perubahan iklim lalu El Nino perlu didukung dengan standar kemudian aturan yang dimaksud mana jelas sehingga dapat meningkatkan luas tanam kemudian produksi padi.
“Standar adaptasi yang dimaksud meliputi pengaplikasian varietas padi antisipasi perubahan iklim, pemupukan berimbang, teknologi hemat air, pengaturan tinggi muka air pada lahan rawa, perbaikan kualitas pakan ternak,” kata Fadjry terkait kegiatan “Adaptasi Perubahan Iklim Pada Musim Hujan 2023/2024 Mendukung Peningkatan Luas Tanam” pada dalam Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagaimana keterangan diterima Sabtu.
Cara-cara adaptasi lainnya untuk meminimalisir dampak perubahan iklim, kata Fadjry, adalah penyelenggaraan aplikasi Kalender Tanam kemudian Sistem Informasi Standing Crop, penyediaan penyimpan air (embung, long storage, dam parit, serta lainnya) serta implementasi konservasi tanah serta air.
Acara itu digelar oleh BSIP Kementan bekerjasama dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) didukung oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan juga juga Perikanan Kabupaten Tasikmalaya.
Tasikmalaya dipilih sebagai perwakilan Provinsi Jawa Barat, yang dimaksud yang disebut merupakan salah 1 dari 10 provinsi Gerakan Nasional (Gernas) penanganan El-Nino.
Kementan di dalam dalam bawah Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi menargetkan peningkatan produksi beras 11,9 persen atau 35,8 jt ton pada 2024 yang dimaksud diperoleh dari produksi Gabah Kering Giling 62,11 ton GKG atau naik sekitar 13,46 persen dibandingkan produksi ATAP 2022. Produksi itu dapat dicapai melalui luas panen 11,86 jt ha, melalui peningkatan Indeks Pertanaman pada area lahan sawah maupun lahan sawah tadah hujan.
Dalam kesempatan itu, dijalankan pula Aksi Tanam Bersama dalam area Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya.
Sekretaris BSIP Haris Syahbuddin, menyerahkan bantuan benih padi varietas Inpari 32 kelas SS sebanyak 250 kg yang hal itu merupakan preferensi masyarakat setempat.
Benih ini selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh petani menjadi benih sebar (kelas ES) sebanyak 500 ton yang digunakan itu dapat memenuhi luas tanam 20.000 hektare , benih 250 kg ES untuk 100 ha lahan dengan produksi minimal 5 ton/ha, yang mana itu diharapkan dapat menghasilkan 500.000 kg benih ES.
Potensi persawahan pada area Tasikmalaya mencapai 51 ribu hektar, terdiri dari 35.000 ha sawah irigasi serta 16.000 ha sawah non irigasi.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan kemudian Perikanan Kabupaten Tasikmalaya Nuraedidin menjelaskan bahwa kearifan lokal masih digunakan di tempat dalam Kabupaten Tasikmalaya sebagai antisipasi perubahan iklim, salah satunya pemanfaatan kincir air untuk mengalirkan air dari sumber air ke lahan persawahan yang mana digunakan sangat membantu dalam memenuhi ketersediaan air.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Maman Suryaman menjelaskan pentingnya peran Perguruan Tinggi dalam penelitian untuk mengupayakan antisipasi perubahan iklim.
Maman menegaskan pentingnya pemberian substansi organik sebagai pupuk kandang maupun pupuk organik lainnya sebelum tanah, yang digunakan dimaksud memiliki kemampuan menahan air untuk ketersediaan air bagi tanaman.
Selain itu, Maman juga mengungkapkan hasil penelitian sebagai penyelenggaraan ekstrak kulit buah-buahan (manggis, buah naga, dan juga juga lainnya) yang digunakan digunakan diberikan ke dalam tanah juga mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menahan air.
Perhimpi memberikan bimbingan teknis tentang pemanfaatan data serta informasi iklim untuk perencanaan waktu tanam, juga tentang prediksi iklim hingga skala dasarian atau bulanan dalam jangka waktu satu musim ke depan sehingga diperoleh gambaran kondisi iklim khususnya curah hujan.
“Informasi ini penting dalam rangka antisipasi lalu perencanaan yang digunakan tambahan tinggi baik guna meminimalkan risiko yang tersebut digunakan kemungkinan akan terjadi. Kapan mau tanam, kapan mau memupuk, semuanya kerugian mampu sekadar diantisipasi jika memahami prediksi iklim yang digunakan mana ada dalam aplikasi,” kata pakar Perhimpi Dr. Elza Surmaini.
Sinergi antar lembaga pemerintah pusat, daerah dan juga juga organisasi profesi ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilar pencapaian target Kementan 2024 dalam area antaranya peningkatan produksi beras 11 persen.